Gabah Melimpah, Serapan Tersendat: Bupati Dompu Turun Tangan

 

Persoalan penyerapan gabah yang dikeluhkan para petani akhirnya mendapat perhatian serius dari Bupati Dompu, Bambang Firdaus. Ia merespons langsung keresahan petani yang kesulitan menjual hasil panen di tengah produksi yang melimpah.



DOMPU – Persoalan penyerapan gabah yang dikeluhkan para petani akhirnya mendapat perhatian serius dari Bupati Dompu, Bambang Firdaus. Ia merespons langsung keresahan petani yang kesulitan menjual hasil panen di tengah produksi yang melimpah.


Keluhan tersebut terutama menyasar kinerja penyerapan gabah oleh Bulog melalui mitra kerjanya yang dinilai belum optimal. Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan tingginya produktivitas panen petani di wilayah Dompu.


Situasi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Dompu menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan berbagai pihak terkait. Langkah ini diambil untuk mencari solusi konkret atas persoalan yang berulang setiap musim panen.


Pemerintah berharap rakor tersebut mampu melahirkan kebijakan yang berpihak pada petani. Terutama dalam menjaga stabilitas harga gabah agar tetap layak dan menguntungkan.


Rakor dipimpin langsung oleh Bupati Bambang Firdaus dan dipandu oleh Pj Sekretaris Daerah H. Khairul Insyan. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (6/4/2026) di Ruang Rapat Bupati Dompu.


Sejumlah unsur Forkopimda turut hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya perwakilan Dandim 1614/Dompu dan Kapolres yang diwakili Kabag Ops.


Selain itu, jajaran perangkat daerah juga ambil bagian dalam rakor tersebut. Mereka meliputi Staf Ahli Bupati, Asisten, hingga kepala OPD teknis terkait.


Hadir pula perwakilan Bulog, baik dari tingkat wilayah maupun cabang. Para mitra Bulog juga diundang untuk memberikan gambaran kondisi lapangan.


Dalam forum tersebut, berbagai persoalan penyerapan gabah disampaikan secara terbuka. Petani mengeluhkan hasil panen mereka belum sepenuhnya terserap oleh Bulog dan mitranya.


Kondisi ini semakin diperparah oleh cuaca yang tidak menentu saat panen berlangsung. Akibatnya, petani merasa tertekan karena khawatir kualitas gabah menurun dan harga jatuh.


Berbagai argumen dan usulan solusi mengemuka dalam rakor tersebut. Tujuannya agar gabah petani dapat terserap maksimal dengan harga yang layak.


Salah satu rekomendasi penting adalah mendorong Bulog mengoptimalkan peran mitra dalam menyerap gabah petani. Koordinasi lintas sektor juga akan diperkuat untuk merespons dinamika di lapangan.


Bulog juga berkomitmen menambah personel di lapangan guna mempercepat proses penyerapan. Selain itu, dibuka peluang penambahan alokasi serapan setara beras di wilayah Divre Bima.


Pemerintah daerah akan menindaklanjuti upaya penambahan alokasi tersebut. Bulog juga berencana menambah mitra baru guna memperluas jangkauan penyerapan.


Untuk mempercepat distribusi, Bulog akan mengoptimalkan penggunaan tenaga dan alat angkut lokal. Biaya muat dan angkut pun akan dikompensasi sebesar Rp200 per kilogram, termasuk pajak.


Upaya lain yang dilakukan adalah memperluas kapasitas penyimpanan dengan memanfaatkan gudang dan lumbung pangan masyarakat. Pemkab Dompu akan mendata dan memverifikasi gudang potensial.


Selain gabah, Bulog juga menargetkan penyerapan jagung petani sekitar 19.600 ton. Fasilitas Silo CDD Bulog di Kampasimeci disiapkan untuk mendukung proses tersebut.


Bulog juga akan menggeser stok jagung lama tahun 2025 dari gudang. Langkah ini dilakukan agar ruang penyimpanan tersedia bagi hasil panen terbaru.


Dari sisi pengawasan, aparat TNI dan Polri berkomitmen mendukung kelancaran distribusi. Mereka menegaskan tidak boleh ada pungutan biaya dalam penerbitan surat jalan jagung.


Dalam rakor itu juga dibahas peluang pembangunan fasilitas Modern Rice Milling Plant (MRMP) di Dompu. Bulog meminta pemerintah daerah segera melengkapi persyaratan agar peluang tersebut dapat direalisasikan. (SN01)

Posting Komentar

0 Komentar