DOMPU – Perayaan Hari Jadi Kabupaten Lombok Barat ke-68 tahun 2026 mengusung tema “Patju Begawean”, yang bermakna semangat kerja keras dan kebersamaan dalam mewujudkan daerah yang maju, mandiri, dan berkeadilan. Tema ini menjadi refleksi komitmen pembangunan yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Puncak peringatan digelar di Giri Menang Park, Gerung, Lombok Barat, pada Jumat (17/04/2026), berlangsung meriah dan penuh khidmat. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan sinergi antar daerah di Nusa Tenggara Barat.
Sejumlah pejabat nasional turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, serta Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus. Hadir pula Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, bersama para bupati dan wali kota se-NTB.
Bupati Dompu, Bambang Firdaus, SE, hadir mewakili pemerintah dan masyarakat Kabupaten Dompu dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar Lombok Barat terus berkembang dan masyarakatnya semakin sejahtera.
“Selamat Hari Ulang Tahun ke-68 Kabupaten Lombok Barat. Semoga semakin maju dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujar Bambang Firdaus.
Kehadiran Bupati Dompu dalam kegiatan ini merupakan bagian dari agenda resmi daerah, setelah sebelumnya mengikuti Musrenbang tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antardaerah.
Menariknya, dalam acara tersebut Bupati Bambang Firdaus tampil mengenakan tenun khas Dompu, yakni Muna Pa’a. Busana ini menjadi simbol identitas budaya sekaligus kebanggaan daerah yang ditampilkan di hadapan para tamu undangan.
Melalui penggunaan tenun Muna Pa’a, Bupati Dompu turut memperkenalkan produk unggulan daerah kepada masyarakat luas, termasuk tamu dari luar Nusa Tenggara Barat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya promosi budaya lokal di tingkat regional.
Tenun Muna Pa’a sendiri merupakan kain tradisional khas Kabupaten Dompu yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kain ini memiliki nilai historis dan filosofi yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Ciri khas tenun Muna Pa’a terletak pada motif kotak-kotak tiga dimensi yang menyerupai anyaman bambu atau *gedek*. Pada masa kerajaan, kain ini hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan atau sultan, namun kini telah berkembang menjadi busana yang digunakan secara luas, termasuk oleh ASN.
Proses pembuatan tenun Muna Pa’a dilakukan secara manual dengan teknik tenun tangan yang rumit. Hal ini menjadikan setiap lembar kain memiliki nilai seni tinggi dan keunikan tersendiri dibandingkan jenis tenun lainnya seperti songket.
Seiring perkembangan zaman, tenun Muna Pa’a terus berinovasi melalui sentuhan para desainer lokal Dompu. Kain ini kini hadir dalam berbagai bentuk dan fungsi, mulai dari pakaian formal, busana pesta, hingga kebutuhan kasual dan olahraga.
Upaya promosi tenun Muna Pa’a dinilai perlu terus digencarkan, baik melalui kegiatan formal maupun non formal. Hal ini penting untuk menjaga kelestarian sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk budaya tersebut.
Kehadiran Bupati Dompu dalam puncak peringatan Hari Jadi Lombok Barat ke-68 menjadi momentum strategis dalam memperkenalkan tenun Muna Pa’a kepada khalayak yang lebih luas. Ajang ini sekaligus mempertegas komitmen daerah dalam melestarikan warisan budaya.
Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan antar daerah seperti ini, diharapkan sinergi pembangunan dan promosi budaya di Nusa Tenggara Barat semakin kuat. Tenun Muna Pa’a pun diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas sebagai ikon budaya Dompu. (SN01)

0 Komentar